Anteposterior

(n) Tempat Dimana Dapat Berbagi Pikiran Dan Perasaan



Tidur, Bermimpi, Terbangun, Bangkit

Malam telah menjemput
Aku tertidur lalu bermimpi
Bermimpi tak jelas
Aku terbangun namun semua berbeda
Kulihat sekeliling padang pasir begitu luas
Suasana begitu panas
Terik matahari begitu menyengat
Teringat akan dosa
Teringat akan dunia
Tak ada satupun orang di sekeliling
Aku berjalan lurus dalam pandangan kedepan
Aku terus berjalan
Hingga aku mulai lelah dan terjatuh

Aku tertidur
Dan bermimpi
Mimpi yang indah akan masa depan
Aku terbangun aku berada dalam lingkaran
Seperti bunderan jalan
Aku berjalan memutar
Namun jalan seolah berputar
terbalik dari arah jalanku
aku terjatuh
namun masih berusaha bangkit
kulihat sekeliling
keluarga dan teman
berusaha menyemangatiku
aku tak kuat lalu jatuh

aku tertidur
lalu bermimpi
mimpi akan surga
aku terbangun
kulihat sekeliling
semua hampa
tanpa keluarga dan teman
tanpa jalan
tanpa ruang
beberapa orang tiba tiba datang
namun tak menemuiku
hanya lewat
ku coba tanya
pada salah satu perempuan
dia tidak mau menjawab
padahal aku hanya ingin tanya
dia mungkin berfikir negatif
ku coba lagi ke orang lain
mereka pun sama
banyak yang sudah kutanya
banyak macam pula responnya
tak ada satupun menjawab
beberapa hanya menoleh
beberapa tak menghiraukan
beberapa hanya diam

aku berputar dalam pencarian jawab
terus berputar
hingga pada saatnya aku tertidur
lalu bangun
hanya mimpi ternyata

aku coba bangun
tapi tak bisa
aku takut
aku tertidur lagi
aku terbangun
ternyata hanya bermimpi
aku bangun dan membuka jendela
keluar kamar
dan disitu banyak sekali keluarga
teman juga

tiba – tiba aku terbangun
ternyata semua mimpi
bingung
tapi nyatanya aku bermimpi
terus
aku merenung
lalu beraktivitas seperti biasa


Penulis: Oktavimega Yoga Guntaradewa
Instagram: @Yogantarawa


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

SURUTNYA ESENSI ORGANISASI MAHASISWA

Jika boleh sedikit subjektif, organisasi sekarang ini semakin redup esensinya. Organsisasi seolah hanya tempat mencari keuntungan diri apalagi terkadang bersifat individualis. Contohnya saja hanya ingin mencari sertifikat agar nanti waktu kerja dapat memunculkannya dalam CV. Atau lebih parah lagi hanya ingin mengisi waktu luang dan selebihnya pamer di sosmed.

Tak menjadi masalah semua alasan tersebut secara personal, tapi secara sosial itu bermasalah. masalahnya adalah ketika individu tersebut dapat mempengaruhi kinerja individu atau kelompok. Sama halnya sebuah mesin  mobil lamborgini, jika salah satu bagian dari mesin itu bukan bagian dari mesin tersebut maka akan sulit bagi mesin untuk bergerak bebas.

Esensi organsisasi menjadi sangat penting karena di dalamnya seharusnya banyak sekali pembelajaran softskill yang didapat. Misalnya saja, masalah ketepatan waktu, cara berkomunikasi dengan orang, kedisplinan, cara mengkoordinasi sesuatu dan lain – lain. Dewasa ini, saya rasakan itu semua hilang. Banyak dari mahasiswa yang ikut organsisasi tak memiliki softskill tersebut. Entah karena komitmen yang terlalu individualis. Atau mungkin ambisi, semangat, hasrat yang membuat esensi tersebut telah hilang. Atau mungkin juga dampak globalisasi? Dengan segala pengaruh budaya, sosial, teknologi dan lain – lain.

Fenomena banyaknya mahasiswa yang memiliki banyak organisasi juga sebuah hal yang menarik. Mereka begitu super kuatnya membagi pikiran, tenaga dan hati mereka untuk banyak sekali organsisasi. Positifnya, hal demikian dapat memberikan banyak pengalaman atau ilmu sehingga dapat dibuat pembelajaran di setiap organisasi yang ia sedang pegang. Negatifnya, kembali ke topik pembahasan kali ini adalah kehilangan esensi dari aktivitas berorganisasi. Panjang sebetulnya jika harus membahas mengenai hilangnya esensi berorganisasi.

Intinya adalah hilangnya esensi ini jangan sampai diacuhkan. Masyarakat dewasa ini lebih banyak melakukan tindakan rasional yang memiliki nilai, tapi apakah sebagai mahkluk sosial nilai itu hanya berorientasi ke arah individualis?. Tentu saja tidak, berorganisasi bukan semata hanya mengembangkan diri tapi juga mengembangkan organisasi , seluruh anggota dan lingkungan sekitar. Menjadi anggota organisasi akan sangat rugi jika tak mempelajari itu semua. Esensi ini jangan sampai termakan oleh prestige apalagi dengan perkembangan zaman.

Penulis: Oktavimega Yoga Guntaradewa
Instagram: @Yogantarawa







Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Seolah dalam himpitan tank - tank panzer besar buatan jerman. Seorang ibu penjual kelontong di desa Pecantingan – Sidoarjo, berjualan dalam himpitan toko – toko besar seperti Alfamart dan Indomart. Dengan berjualan barang yang sama dan lokasi penjualan yang sangat berdekatan, membuat peluang mendapatkan laba yang besar menjadi kurang. Apalagi, jika pesaing – pesaing usaha  adalah para pemilik modal besar.

Suasana kapitalisme yang memenuhi setiap sudut penjualan di pasar, Ibu tersebut mampu tetap berjualan dengan menyewa tempat 15m2 meskipun tidak selaris dulu ketika belum ada usaha dagang besar disekitarnya. Ibu yang berumur sekitar 60 tahun itu telah berjualan sangat lama ketika ketiga anak beliau masih sekolah. Dalam berjualan beliau juga berpedoman bahwasannya dia berjualan hanya untuk mengisi waktu luang dan mendapatkan uang untuk kebutuhan dirinya sendiri. Meskipun dihimpit persaingan, Ibu ini tidak merasa bersaing karena beliau berfikiran bahwa rejeki itu Tuhan yang mengatur.

“Namanya rejeki Tuhan yang ngatur mas biarin aja.” Ujarnya.

Dalam sempitnya toko yang ia sewa, dengan harga sewa sebesar 3 juta per tahun. Ibu  yang sudah cukup tua ini hanya bekerja setengah hari dari pagi sampai siang. Konsumennya kebanyakan dari kampung sekitar dan perumahan depan toko beliau. Dengan suasana tempat yang cukup ramai itulah beliau masih mampu bertahan dalam himpitan persaingan dagang yang begitu ketat. Meskipun begitu, Laba bersih yang beliau peroleh masih cukup untuk memenuhi kebutuhan ibu dan suaminya. Dan dari hasil usaha ibu pada waktu dulu ketika masih laris dan belum ada usaha dagang besar, beliau juga mampu menyekolahkan ketiga anaknya sampai jenjang S1.

Meskipun mendapatkan laba kecil, hal ini tidak membuatnya menyerah berjualan.  Berhasil menguliahkan ketiga anaknya sampai jenjang S1, membuat Ibu ini mendapatkan hasilnya sekarang. Meskipun ketiga anaknya selalu mengirimkan uang, tidak membuat beliau berhenti bekerja. Beliau masih tetap berjualan dengan kekuatan tubuh yang tidak sekuat dulu karena usia beliau yang sudah cukup tua. Dan berjualan berdampingan dengan toko – toko besar yang menyaingi usaha beliau.

Seperti halnya dengan penjual yang lain Ibu ini juga memiliki banyak konsumen tetap. Cara yang beliau gunakan untuk membuat pelanggan membeli ditempatnya adalah dengan menyapa dan bercengkrama ringan dengan pelanggan. Ibu itu terkadang juga memperhatikan pembeli yang membeli jualan. Seperti contoh, Ibu tersebut terkadang memberikan saran untuk membeli kopi dengan air panas. Karena dengan membeli kopi dengan air dingin maka akan mengganggu lambung atau kesehatan pembeli.

Apalagi jika pembelinya anak kecil, Ibu juga memperhatikan apa yang mereka beli. Jika yang dibeli adalah rokok atau barang dagangan semacamnya yang berbahaya bagi anak kecil. Maka beliau selalu menanyakan untuk apa dan siapa barang itu dibeli. Karena beliau cemas sekali ketika barang dagangan yang berbahaya bagi anak kecil tersebut disalahgunakan. Sepertinya jiwa seorang ibu yang sangat melindungi dan penuh kasih sayang yang beliau gunakan untuk berjualan, telah mengikat hati para pembeli untuk datang kembali.

Dengan persaingan pasar dewasa ini yang dirasa begitu ketat. Para pemilik modal besar akan sangat mudah melibas para pemilik modal kecil. Hal tersebut terkadang membuat etika para penjual usaha dagang dengan modal kecil luntur. Sehingga para penjual dewasa ini sering sekali melakukan segala cara untuk mendapatkan untung. Namun hal itu berbeda dengan Ibu yang satu ini, dengan tujuan berjualan yang tidak merasa bersaing dan menggunakan cara – cara berjualan yang baik, beliau patut di aprisiasi. Dan beliau juga masih eksis atau bertahan untuk tetap berjualan di era hutan rimba, dimana yang kuat akan mengalahkan yang lemah dan ketika tidak mampu bertahan maka akan punah.



Penulis: Oktavimega Yoga Guntaradewa

Instagram: @Yogantarawa

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Kutulis Rindu

 

Ingin sekali aku menulis rindu malam ini
Bersama menggebunya kekuatan hati
Bertemu denganmu seolah halusinasi
Hanya dapat memegang indahnya jemari

Sepiku melayang memandang wajahmu
Terkikis sunyi memecah belah kenangmu
Tak juga rasa ini menjadi kalbu karenamu
Di ujung waktu entah kapan aku menjemputmu

Jika waktu tak bisa berhenti karena takdir
Maka aku akan terus melaju menuju akhir
Dengan membentuk sisa rasa ini menjadi terlampir
Maka ku tak segan berjalan jauh  meskipun hanya hampir


Penulis: Oktavimega Yoga Guntaradewa
Instagram: @Yogantarawa




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


BUKAN PERANG SIPIL BIASA!! Captain America: Civil War merupakan film Amerika Serikat yang berkisah tentang Perseteruan para superhero yang ada dalam komik marvel, perseteruan itu dikarenakan perdebatan pendapatan antar superhero dalam menyikapi undang – undang tentang regristasi pahlawan super.

Di dalam film tersebut terdapat sekitar 12 superhero dalam satu film yang sebenarnya adalah film tentang satu tokoh pahlawan super yaitu Captain America. Dalam film tersebut juga terdapat tokoh superhero yang belum pernah muncul ataupun yang sudah pernah muncul. Civil war sendiri adalah sekuel ketiga dari film captain america. Civil war juga sebenarnya melanjutkan jalan cerita dari beberapa film superhero lainnya.

Jika dapat dianalisis mengenai budaya pop culture mengenai film superhero Marvel adalah adanya kesatuan cerita yang konsisten dijalankan dari awal untuk membentuk sebuah harmonisasi dari cerita – cerita superhero lainnya. Marvel seolah berusaha menyatukan fans dari beberapa tokoh super hero untuk membentuk budaya baru yang dapat mempengaruhi perilaku konsumtif di masyarakat. Marvel juga seolah menciptakan sebuah realitas palsu dimana dalam film marvel dibuat seolah superhero adalah sesuatu yang nyata jika dikaitkan dengan judulnya yaitu civil war yaitu perang masyarakat sipil padahal sejatinya masyarakat sipil tidak mempunyai senjata. 

Banyaknya superhero yang ada di dalam film civil war membuat para fans dari tokoh hero seperti Iron Man, Black Widow, Ant – Man, Spiderman, War Machine, Falcon dan lain – lain akan menambah pendapatan dari film ini. Film Civil War kini berpendapatan mencapai satu milliar dollar amerika serikat. Pencapaian yang begitu tinggi tidak kalah dengan film – film gabungan superhero yang lainnya seperti Avanger 1 dan 2. 

Beberapa tokoh superhero ada yang baru dikenalkan dalam film Civil war seperti Black Panther dan juga Spiderman yang baru juga diperkenalkan dalam film tersebut guna mendongkrak film – film yang nantinya akan berjalan sendiri. Tak hanya film – film dari superhero sendiri yang akan di dongkrak. Film ini juga nantinya akan melanjutkan cerita dalam sekuel avanger 3 nantinya di tahun 2018 dan 2019. 

Jika dilihat banyak sekali sekuel maupun prekuel yang ada dalam film superhero di marvel. Tidak hanya itu, marvel juga sepertinya akan membuat strategi film yang dibuat per bagian untuk menjaga minat dari adanya film superhero yang sekarang ini semakin menjamur. Nantinya film tersebut akan dibuat pada film avanger 3 part 1 dan part 2. Beberapa strategi memang tengah disiapkan marvel guna melanjutkan film – film sebelumnya dan mendongkrak film – film superhero yang lain.

Dalam film civil war yang diadaptasi dari komik marvel dengan judul yang sama juga terdapat bagian – bagian atau jalan cerita yang diubah guna mereproduksi dari komik yang sudah usang atau tidak sesuai dengan zaman. Hasil reproduksi itu juga guna membuat film superhero menjadi realistis dan sesuai dengan budaya pop culture jaman sekarang.  Ini menjadi penting karena budaya pop culture inilah yang nantinya akan menjadi pacuan dari selera para penggemar atau penonton film superhero.

Dalam film civil yang menarik adalah ketika penonton yang harusnya anak – anak ternyata terdapat banyak orang dewasa yang menontonya. Ini artinya marvel mampu mengemas superhero yang ada di komik mampu dinikmati segala kalangan guna menambah jaringan penonton superhero. Antusiasme masyarakat ketika film tersebut pertama muncul juga begitu besar terlihat dari pendapatannya yang sudah mencapai 300 juta dollar amerika serikat ketika pertama tayang. 

Dalam kemasan yang diberikan sutradara film marvel ini juga tidak hanya menyajikan aksi – aksi yang begitu menegangkan tapi juga memberikan humor – humor menggelitik dan mampu menggugah perasaan penonton dalam sebuah drama yang dimainkan ketika konflik antar kedua belah pihak superhero. Artinya marvel tidak hanya begitu serius seperti film superhero lainnya seperti DC, marvel juga memberikan ruang bagi berbagai khalangan untuk dapat dinikmati.

Tidak hanya hasil dari film marvel yang mampu menggerakan perilaku konsumtif masyarakat. Marvel juga berusaha merambah kerjasama dengan beberapa pihak terkait seperti gadget, permainan, atau aksesoris yang berhubungan dengan film guna mendapatkan hasil yang begitu besar dan mampu mempengaruhi pemikiran masyarakat akan sebuah realita palsu yang dihasilkan dalam film superhero seperti civil war. Ini artinya kekuatan dari marvel sebagai produsen tidak hanya berjuang sendiri melainkan bekerjsama untuk membentuk pangsa pasar yang membuat masyarakat konsumtif. 

Jika dianalisis seara sosiologis terutama mengkaji dalam bidang ekonomi film civil war dapat menjelaskan beberapa teori sosial mengenai hyper realitas, simulakra dan mcdonalisasi. Dimana teori-teori mikro yang diciptakan pada masa post modern tersebut juga mampu menjelaskan budaya pop culture yang muncul pada abad 21. Pengaruh dalam budaya pop culture inilah yang nantinya akan membentuk juga perilaku konsumsi masyarakat. 

Dalam penerapannya perilaku konsumsi masyarakat disini juga bisa menjadi sangat konsumtif ketika adanya kekuatan modal yang mampu menggerakan pangsa pasar yang nantinya juga dapat menentukan selera dari masyarakat. Persaingan film superhero akan menjadi termonopoli oleh film besutan dari komik Marvel dan pengerjaan dari studi marvel jika marvel mampu mengendalikan perilaku konsumsi masyarakat.

Pengaruh dari film – film di Amerika Serikat juga berpengaruh besar dalam budaya negara – negara berkembang. Dengan adanya globalisasi budaya – budaya pop culture semakin mudah memasuki budaya lokal masyarakat negara – negara berkembang. Dalam film civil war juga berusaha memakai tokoh – tokoh di negara berkembang guna menciptakan spirit yang sama.

Padahal jika dapat dianalisis mungkin itu hanyalah sebuah cara film besar amerika untuk mengumpulkan keuntungan pribadi. Jika ternyata benar maka perilaku konsumtif masyarakat telah diciptakan oleh budaya pop culture yang diciptakan barat seperti film superhero buatan marvel, contohnya film Civil War.




Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Newer Posts
Older Posts

About Me

Yoga Dewa

(Sociologist)

Focus on Community Development, Education, New Social Movement

Instagram: @Yogantarawa

Labels

  • CERPEN
  • MY ART
  • OPINI
  • Puisi
  • REKOMENDASI
  • TIPS AND TRICK

recent posts

Sponsor

Flag Counter

Blog Archive

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  October (1)
      • Buku Pertama (MENGENAL GERAKAN MENGAJAR)
  • ►  2020 (6)
    • ►  May (3)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (22)
    • ►  December (1)
    • ►  September (6)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  March (3)
    • ►  February (5)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (16)
    • ►  November (1)
    • ►  October (4)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  May (5)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2016 (27)
    • ►  August (1)
    • ►  July (3)
    • ►  June (9)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (3)
    • ►  January (5)
  • ►  2015 (8)
    • ►  December (7)
    • ►  October (1)
  • ►  2014 (11)
    • ►  August (2)
    • ►  July (4)
    • ►  June (5)

Created with by BeautyTemplates| Distributed By Gooyaabi Templates