Anteposterior

(n) Tempat Dimana Dapat Berbagi Pikiran Dan Perasaan


X: Why are you eating the fish?
Y: Because I love the fish
X: Oh, So you love the fish?,that is why you took it out of water then you killed and boiled the fish. Dont say you love the fish, You love yourself. 
Sumber: Video di Line @9GAG


You love yourself, Kalimat itulah yang menyentuh hati saya. Selama ini sering sekali kita merasa dengan mudah bilang kita mencintai sesuatu atau seseorang, entah benda, entah orang tua, lawan jenis, teman dan lain – lain. Kata cinta begitu mudah kita ucapkan tanpa berfikir panjang. 

Sudut pandang kita terkadang membuat kita lupa berkaca atau melihat sudut pandang lain. Kalau ada orang cinta itu buta, ya memang buta. Tapi yang membuat buta bukanlah cinta menurut saya, tapi sudut pandang kita. Sudut pandang kita yang sempit kadang membuat arti cinta begitu sempit. Dalam percakapan diatas, dia berfikir dia mencintai ikan karena yang dia makan ikan. Padahal itu hanya dari sudut pandang dia, sudut pandang ikan justru sebaliknya. 

Auguste Comte mengatakan dalam konsep egoistic instincts bahwa pada umumnya manusia memiliki instink egoistis lebih besar daripada instink altruistik(kebersamaan). Artinya bahwa manusia pada dasarnya egois memang. Padahal semua orang tau mereka tidak bisa sendiri. 

Dalam akhir video dejlaskan bahwa CINTA itu bukan soal apa yang kamu dapatkan tapi apa yang kamu berikan. Menurut saya, CINTA bukan soal apakah kamu dapat memberi lebih atau menerima lebih. Tapi SAMA, saling memberi dan menerima dalam konteks “keadilan”. 

Koreksi lah CINTA Kita pada orang tua, teman, sahabat, istri/suami, anak. Berkaca!, Apakah anda hanya mencintai diri anda sendiri?

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
        
        Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Semakin tinggi kualitas sumber daya manusia yang ada, maka akan mampu menggerakan perekonomian Indonesia. Dalam proses peningkatan kualitas pendidikan, pemerintah mengalami masalah-masalah seperti kurangnya guru, kurangnya fasilitas pendidikan, biaya pendidikan yang mahal, seta persoalan kurikulum. Meskipun begitu, pemerintah berupaya terus memperbaiki kualitas pendidikan dengan memberikan porsi dana APBN 2017 sebesar 20% untuk pendidikan.

         Masalah klise yang sering terjadi mengenai pendidikan adalah kesenjangan atau disparitas pendidikan. Hal ini disebabkan masih banyaknya daerah 3T (tertinggal, terluar,terdepan) di Indonesia, yakni sekitar 122 kota. Jawa Timur berada di posisi ke 7 dari keseluruhan provinsi dengan daerah tertinggal terbanyak yang ada di Indonesia.

       Provinsi Jawa Timur yang memiliki indeks pembangunan manusia tahun sebesar 68,95 % menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, sangat ironis ketika masih banyak daerah tertinggal di beberapa kota besar. Dalam hal pendidikan, misalnya Sekolah Dasar (SD) Gebang 2 di Dusun Pucukan, Desa Gebang, Kota Sidoarjo, berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah jumlah ruang kelas hanya 4, luas tanah 1700 m2, tidak ada akses internet, sumber listrik menggunakan PLN dan Diesel. Di SD Ngrejo 4 di Tulungagung memiliki 6 kelas, luas tanah 900 m2, tidak memiliki perpustakaan, sanitasi siswa dan sumber listrik diesel dan tidak ada akses internet berdasarkan data dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
         
        Dalam mengurangi kesenjangan pendidikan, upaya yang dilakukan pemerintah masih belum maksimal. Berdasarkan data BPS (2016), Presentase Angka Partisipasi Sekolah (APS) umur 7-12 tahun turun 0,26% di tahun 2015. APS umur 13-15 juga menurun di Tahun 2015 sebesar 0,07%. Berdasarkan data Education For All Global Monitoring Report 2011, Indeks pembangunan pendidikan Indonesia turun peringkat jadi ke-69.

         Berdasarkan isu mengenai kesenjangan pendidikan tersebut, maka timbulah gerakan sosial baru. Artinya gerakan sosial dari masyarakat yang bergerak memperjuangkan perubahan sosial atas dasar isu – isu yang berkembang seperti misalnya kesenjangan pendidikan. Gerakan sosial baru merujuk pada suatu konsepsi yang membedakannya dengan konsep gerakan sosial yang lama di mana gerakan sosial lama cenderung politis, melibatkan aksi massa serta berorientasi kelas. Gerakan sosial baru cenderung dipahami sebagai gerakan yang cenderung kultural, tidak melibatkan aksi massa, lebih dekat dengan isu sehari-hari, dalam hal ini adalah kesempatan mengenyam pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin (Larana ed. 1994; Johston dan Klandermans 1995; Pichardo 1997).

         Dalam dunia pendidikan sendiri gerakan yang paling menonjol terlihat di masyarakat adalah gerakan Indonesia Mengajar yang dibuat oleh Anies Baswedan. Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) sendiri merupakan model pendidikan eklektisme, yakni model pendidikan yang mencampurkan community development (CD). Suatu model pendidikan khas Lembaga Swadaya Masyarakat, dengan pendidikan formal yang berbasis UU Sikdiknas (Sholeh: 2014). Indonesia Mengajar sendiri sampai saat ini merupakan sebuah gerakan awal yang merintis dengan menjunjung profesionalitas, artinya didukung banyak sumber daya yang berkualitas.

         Indonesia Mengajar membawa pengaruh yang cukup besar bagi mahasiswa untuk bergerak dalam bidang yang sama yakni mengajar. Fenomena sekarang ini, justru banyak sekali para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi berupaya membuat gerakan mengajar karena terinspirasi dari Indonesia Mengajar.  Gerakan yang dilakukan mahasiswa ini dapat berbentuk organisasi ataupun program dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Sampai saat ini contoh Gerakan mahasiswa di Surabaya sendiri seperti Unair Mengajar, ITS mengajar, Unesa Mengajar, dan lain-lain. Beberapa program pengabdian BEM di Unair juga berbentuk kegiatan mengajar, seperti AYO BELAJAR dari Fisip, Vokasi Mengajar, Psikologi Mengajar dan lain-lain.

             Fenomena gerakan sosial yang dibuat mahasiswa ini lahir dari isu-isu mengenai kesenjangan pendidikan. Mahasiswa sebagai agen perubahan, perlu melakukan aksi nyata dalam memperbaiki kesenjangan pendidikan. Berdasarkan hasil temuan Idil Akbar (2016) Gerakan mahasiswa sebagai gerakan sosial merupakan faktor paling penting dalam mewujudkan perubahan sosial. Sebagai agen perubahan, idealisme mahasiswa menjadi nilai sejauh mana perubahan sosial tersebut berjalan dengan semestinya atau penuh dengan kepentingan. Gerakan mahasiswa ini pula menjadi penanda penting keberlangsungan demokrasi tetap berjalan .

         Harapannya gerakan mengajar yang dilakukan oleh mahasiswa dapat membantu pemerintah dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan dan juga mengurangi kesenjangan pendidikan yang ada di Indonesia. Dan semangat gerakannya, dapat menginspirasi pemuda lainnya untuk bersama-sama berjuang (bukan hanya mahasiswa). Pemudalah yang harus menggerakan perubahan. Karena dari pemuda, lahirlah semangat yang menggebu-nggebu, semangat yang berapi-api, tenaga yang masih sangat kuat dan fresh, Ide-ide dan gagasan yang cemerlang dan tentunya mampu menjembatani semua umur untuk sama-sama bergerak membawa perubahan yang lebih baik. Klise memang, utopis mungkin, lantas apakah harus menyerah?. TIDAK!! Percayalah akan hari pembalasan.

Selamat Hari Pendidikan  :)



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Dunia berubah
Buku tak lagi nyata
Guru tak lagi nyata
Tapi aku masih sama, anak desa

Ebook dimana-mana
Google jadi dewa
Manusia  tak sadar jadi budaknya
Tapi aku masih manusia, purba katanya

Kapital mengalahkan sosial
Mengajar menjadi perkara uang
Belajar pun jadi pasar
Tapi aku masih sama, belajar untuk kenyang

Globalisasi semakin kencang
Batasan nilai semakin hilang
Menuju kemajuan yang semakin remang
Tapi aku masih belajar, dan tertinggal


Karya: @yogantarawa


- Selamat Hari Pendidikan -


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Asal Usul

         Anteposterior sebenarnya merupakan gabungan istilah kedokteran Antero (depan) dan Posterior (belakang). Saya sendiri mengambil pada bagian depan dan belakang otak besar manusia, lebih tepatnya daerah Anterior lobus frontalis dan Posterior sulkus entralis (Wikipedia/Otak). Anterior lobus frontalis berhubungan dengan kemampuan berfikir, filosofinya di blog ini saya ingin berbagi pikiran (dealektika) saya mengenai dunia dan berbagi pengalaman. Posterior sulkus entralis berhubungan dengan perasaan yang dirasakan, filosofinya di blog ini saya ingin berbagi perasaan saya (emosi) pada pembaca melalui tulisan – tulisan saya.

Pengantar

  Template blog ini mungkin setiap 6 bulan sekali atau setahun sekali akan saya ubah agar lebih segar, tapi akan tetap minimalis agar mudah diakses dan dilihat. Tapi yang paling penting adalah tulisan. Akan saya usahakan untuk menulis tiap bulannya (semoga). Tulisan saya dulu monggo dibaca dulu, tapi maaf kalo banyak tulisan yang masih jelek dan enggak jelas ( sadar diri).  Sengaja saya tidak perbaiki untuk memberikan gambaran perubahan tulisan saya. Kalo mungkin, ingin sekali saya kembangkan ke website suatu hari nanti.
Fokus

        Tulisan dalam blog ini mungkin hanya fokus pada OPINI dan PUISI dibandingkan rubrik lain. Karena saya berada dalam lingkungan akademisi (sosiologi) akan lebih baik saya menulis opini untuk menggambarkan pendapat saya akan realitas masyarakat. Tapi lebih fokus lagi mungkin saya hanya akan menulis opini berkaitan atau bersudut pandang pendidikan dan pengembangan masyarakat. Puisi, karena saya suka menulis puisi (hehe). Puisi bagi saya mampu menggambarkan perasaan lebih dalam dan lebih sederhana (Padahal sangat rumit). Puisi yang saya ingin tulis biasanya tentang romantisme (bukan soal cinta saja).

Warna

  Tulisan saya berikutnya mungkin lebih santai agar mudah dibaca oleh segala macam orang. Tapi tetap akademis, agar opini yang terbentuk sesuai dengan kaidah – kaidah akademis dan juga bernafas sosiologi (sesuai bidang saya). Dan nantinya saya akan menjelaskan dari sudut pandang agama saya Islam, bukan bermaksud menyinggung SARA tapi justru saya sangat menjunjung tinggi pluralitas. Sepertinya agak susah ya, tapi itu tantangan bagi saya. 

Kesimpulan

  Saya hanyalah seorang pembelajar yang akan terus belajar. Tujuannya agar mampu menginspirasi, membantu, bermanfaat, berguna, intinya positif. Jika ada yang negatif mohon dikomunikasikan. Kritik dan saran sangat dibutuhkan dalam tulisan saya. Silahkan hubungi saya melalui email yoga.dewa02110@gmail untuk kritik dan saran tulisan saya di blog ini.

        Blog ini merupakan sarana bagi saya agar dapat berbagi pikiran dan perasaan saya terhadap dunia. Semoga bermanfaat, kurang lebihnya mohon dimaafkan. 


Salam Menulis
@Yogantarawa
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
    Kesehatan merupakan hal terpenting bagi masyarakat. Masyarakat yang sehat akan memenuhi kebutuhan ekonomi dengan bekerja. Dan masyarakat dapat dikatagorikan sejahtera jika mampu memenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya.Dalam pencapain tingkat kesehatan masyarakat yang tinggi, salah satu indikatornya adalah aksesbilitas kesehatan. Dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, masyarakat dengan status ekonomi lebih tinggi mempunyai akses terhadap pelayanan kesehatan lebih baik dibandingkan dengan mereka dengan status ekonomi rendah (Susanto dan Mubasyir, 2006). Masyarakat dengan status ekonomi rendah paling banyak terjadi di daerah pedesaan.

    Di pedesaan masyarakat miskin terperangkap dalam kemiskinan karena kerentanan jasmani. Menurut Chambers dalam konsep Kerentanan menghadapi situasi darurat (State of emergency), masyarakat miskin memiliki kerentanan dalam situasi darurat terutama dalam menghadapi penyakit atau bencana alam karena tidak adanya tabungan hal tersebut. Kerentanan ini juga menyebabkan masyarakat tidak dapat mendapatkan keadilan terutama dalam kesehatan. Banyak masyarakat miskin yang seperti kita tahu bahwa mereka selalu memiliki perbedaan pelayanan kesehatan. Jaminan kesehatan yang diberi dari pemerintah juga belum mampu mengatasi permasalahan tersebut.

    Kondisi pedesaan yang jauh dari fasilitas umum khususnya rumah sakit juga menghambat aksesibilitas kesehatan. Beberapa desa masih sangat kesulitan untuk mobilisasi karena kondisi jalan dan minimnya kendaraan umum yang mengantarkan ke pelayanan kesehatan terdekat. Di beberapa desa di jombang, Ambulan desa sudah mulai berfungsi, dan mungkin ini bisa menjadi contoh bagi desa – desa lain di Indonesia.

    Jalan merupakan fasilitas yang paling penting yang harus disegerakan dalam pembangunan desa ataupun kota. Namun kenyataannya, Jalan yang berlubang atau jalan – jalan makadam masih ada di desa dan sangat menghambat akses. Pola pemukiman di desa yang renggang juga semakin memperparah aksesbilitas kesehatan.

    Dari segala permasalah diatas ternyata ada yang lebih penting untuk segera di realisasikan solusinya. Sulitnya Jaringan telepon yang masih ada di beberapa desa sangatlah menyulitkan akses komunikasi masyarakat yang sakit ke saudara, keluarga, kepala desa. Hal tersebut menyebabkan banyak masyarakat yang sakit terlambat mendapatkan bantuan karena. Ketidakmampuan untuk menghubungi atau bahkan ketidakmampuan ekonomi untuk membeli Handphone. Sehingga mereka harus berjalan jauh ke gunung atau daerah yang mudah sinyal untuk dapat menghubungi seseorang.

    Saya kira ini perlu segera ditangani karena mudahnya sinyal bukan hanya akan mempermudah aksesbilitas tapi juga mempermudah aspirasi masyarakat atau membuka kesadaran masyarakat terhadap kesehatan melalui Sosialisasi lewat telepon. Dan masyarakat perlu membantu bersuara dalam arena publik sehingga pemerintah dapat mendengar apa yang menjadi kebutuhan masyarakat.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

            Bhineka Tunggal Ika merupakan semboyan yang sangat kuat mempengaruhi keberagamaan suku, ras, budaya dan agama di Indonesia. Sila pertama dalam pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa juga salah satu Toleransi antar agama. Begitu kuatnya fondasi toleransi yang diciptakan pahlawan kita merupakah anugrah yang patut disyukuri dan diperjuangkan. Karena multikulturalisme juga menjadi ciri khas bangsa yang patut dibanggakan. 71 Tahun Indonesia merdeka, harusnya masyarakat telah sangat memahami keberagaman Indonesia.


            2016 menjadi tahun yang banyak diuji mengenai isu keberagaman. Isu mengai SARA memang selalu menjadi sasaran empuk untuk memecah belah masyarakat Indonesia. Entah kenapa hal ini bisa terjadi dalam masyarakat yang merdeka karena keberagaman.  Dan hidup damai selama 71 tahun dengan keberagaman. Konflik horizontal yang selalu terjadi dan mudah sekali terjadi. Seolah tak menjadi pelajaran bagi semua untuk saling memahami dan bersatu dalam kesatuan negara. Padahal akar konflik selalu berkaitan dengan kesalah pahaman. Kuatnya sikap etnosentrisme, primodalisme dan fundamentalisme yang mengalahkan sikap nasionalisme juga kerap menjadi faktornya.


           Era globalisasi membuat masyarakat kini seolah semakin dekat. Dengan kecanggihan teknologi yang semakin hari semakin meningkat, membuat komunikasi dan informasi kini semakin cepat. Dari hal tersebut, maka lahirlah dunia baru manuisa yaitu dunia maya. Semakin murahnya teknologi komunikasi sekarang ini juga membuat masyarakat mudah sekali masuk dalam dunia maya. Dan beberapa tempat untuk mengkakses dunia maya bisa melalui media sosial, blog, website dan lain – lain. . Berdasarkan data yang dihimpun We Are Social (2015) Jumlah pengguna internet di Indonesia sejumlah 88,1 Juta, 79 juta di antaranya merupakan pengguna media sosial. Artinya media sosial sekarang ini telah menjadi bagian hidup bagi setiap masyarakat Indonesia.


            Media sosial pun kini menjadi media bersuara bagi banyak orang, untuk mengungkapkan banyak hal terutama mengenai isu – isu terhangat. Banyak orang bebas berbicara di media sosial, mulai dari kritik, provokasi, ejekan, positif, negatif larut di dalamnya. Kebebasan tersebut membuat banyak pihak berupaya memanfaatkannya. Meskipun undang – undang ITE sudah berupaya mengkontrol hal tersebut. Saya sendiri masih sering menemukan banyak sekali hal – hal negatif  dalam komentar – komentar ataupun dalam postingan – postingan di Instagram.


          Miris melihat situasi dimana banyak sekali akun – akun media sosial yang abal – abal dan dengan sangat mudah memprovokasi banyak orang dengan berita – berita hoax. Artinya untuk meminimalisir ini, masyarakat Indonesia di Tahun 2017 dan seterusnya harus cerdas menyaring informasi di media sosial. Jangan mudah terpancing emosi sehingga membalas dengan hal – hal yang negatif juga. Media sosial perlu menjadi media untuk meningkatkan kebhinekaan Indonesia, bukan sebaliknya.


           Apalagi, mengingat konflik SARA biasanya memerlukan penanganan dan pemulihan yang lama maka kalkulasi risiko konflik harus dianalisis dengan tepat. Pemerintah selaku penyelenggara negara menyiapkan langkah-langkah pencegahan, persiapan, tanggap darurat, dan pemulihan, jika konflik tersebut terjadi dan tidak bisa dicegah (bdk: Prunckun 2010,2015).


          Solusi di tahun 2017 bagi pemerintah, perlu adanya tindakan tegas mengenai pelanggaran hukum tanpa pandang bulu. Tindakan tegas mengenai pelanggaran hukum akan meningkatkan kepercayaan masyarakat mengenai hukum. Penindakan tegas mengenai pelanggaran hukum pun kini juga arus direalisasikan dalam dunia maya. Karena dunia maya kini telah menjadi tempat baru bagi para pelanggar hukum.


           Para akademisi saya rasa perlu bersuara untuk membungkam pihak – pihak yang ingin merusak kebhinekaan Indonesia. Karena saya rasa apa yang diutarakan para pihak yang tidak bertanggung jawab di media sosial, tidak berdasarkan data ataupun fakta – fakta yang ada. Para akademisi pun perlu menangkal isu – isu hoax yang mampu menggoyahkan stabilitas negara.


              Bung Karno pernah mengatakan bahwa, perjuangan melawan penjajah lebih mudah daripada melawan bangsa sendiri. Kini Indonesia dihadapkan pada isu kebhinekaan yang dapat mengancap NKRI. Seluruh bangsa Indonesia perlu cerdas menghadapi era globalisasi ini. Dan tentu saja perlu menjujung tinggi semangat “Bhineka Tunggal Ika”.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

                Baru kali ini saya nulis hal yang sedikit pribadi. Saya rasa ini perlu ditulis, meskipun tidak layak untuk dibaca. Kali ini saya mau menjawab mengapa saya jarang nulis. Dan berhubungan dengan tahun baru, saya sedikit ingin cerita tentang tahun baru saya yang mungkin biasa – biasa saja bagi anda. FYI, kenapa saya jarang nulis akhir akhir ini, dikarenakan saya harus mengirim tulisan saya ke media dulu. Baru setelah tidak lolos saya masukan di blog. Dan banyak juga kegiatan – kegiatan yang membuat saya jarang menulis. Lagi pula juga mungkin nggk ada yang nungguin saya nulis wkwk.

            2017. Banyak orang bermimpi, banyak orang merenung, banyak orang meng-capture moment. Banyak orang beresolusi. At that night, malam tahun baru 2016-2017. Seperti malam tahun baru biasanya saya hanya di rumah karena untuk jalan – jalan keluar juga percuma. Selalu hujan dan macet dimana – mana. Keadaannya juga lagi tidak memungkinkan untuk bersenang – senang karena bapak di rumah sakit. Malam itu saya berada dalam kamar menatap atap sambil berfikir panjang (sok sokan filosofis). Bukan hanya tahun 2016, tapi keseluruhan hidup saya, saya coba renungkan.


ORGANISASI

            2016. Belajar bagaimana menjalankan banyak organisasi dalam satu tahun. Bayangkan saja saya terjebak di 4 organisasi sekaligus. Satu, organisasi pers setingkat fakultas yang ingin saya bangun karena organisasi tersebut barusan bangun dari kematiannya. Dan itu merupakan tantangan bagi saya. Lagi pula sebagai sosiolog saya perlu kemampuan membaca, menulis dan berbicara. Seperti kata Al-Faruqi untuk melakukan rekayasa sosial perlu membaca, menulis dan beretorika. Itulah kenapa saya mempertahankan organisasi tersebut.


            Kemudian organisasi kedua adalah organisasi eksekutif mahasiswa setingkat fakultas. Saya dimintai tolong kakak kelas saya untuk menjadi staffnya di bidang penelitian dan pembangunan. Karena ini peluang saya untuk belajar berorganisasi setingkat fakultas dan sejalur dengan jurusan saya maka saya ambilah tanggung jawab ini. Sebelumnnya sih pengen masuk yang setingkat universitas. Namun apa daya pendaftaran masih lama dan belum tentu juga diterima. Meskipun saya optimis lolos hehe. Ada kesempatan langsung close req kenapa tidak dicoba. Cukup 2 organisasi yang akan saya tekuni.


            Berjalannya waktu ketika diajak keluarga temen jalan – jalan ke malang, saya malah lebih memilih ikut musyawarah besar (mubes) organisasi yang selama ini saya sangat nyaman di dalamnya. Sebuah organsasi nirlaba setingkat universitas bergerak dibidang pendidikan. Sebuah organsisasi yang jarang banget ada cowoknya. Sebuah organsasi yang dulu saya pilih dengan mengorbankan UKM Paduan Suara Universitas yang bergengsi.

          

            Sungguh tiada hasrat atau dugaan. Pada waktu mubes saya terpilih sebagai penanggung jawab terbesar di organisasi tersebut. Ya, sebagai ketua. Banyak orang bilang bahwa mungkin saya terlalu serakah berorganisasi dan hanya ingin jabatan dll. Banyak orang juga merendahkan kemampuan saya. Tapi saya percaya Tuhan Maha Melihat. saya menjadi ketua bukan karena pilihan saya tapi karena pilihan teman – teman saya. Saya tidak ada pernah sedikit pun terbayang menjadi ketua. Dan buat orang – orang yang meremehkan saya, well mungkin ada benarnya, tapi kalian banyak salahnya hehe.  Tapi memang kata Darendolf, kepemimpinan dipilih bukan karena ciri – ciri psikologis tapi karena masyarakat yang ingin memilih.

            Organisasi keempat adalah organisasi setingkat universitas di bidang akademik prestasi. Saya bisa masuk karena tugas saya di organisasi kedua yang sebagai PJ PKM (Program Kreativitas Mahasiswa). Sungguh tiada disangka saya harus menanggung 4 tanggung jawab dimana IPK perlu saya perbaiki. Dan Puji Syukur saya dapat menjalankan ke empat empatnnya dengan lancar. Ya nggk semuanya lancar sih. Yang saya pelajari dari sini adalah saya perlu fokus terhadap tujuan saya. Harus tegas dalam memilih. Ke empat organsasi yang saya jalani sungguh merugikan banyak orang di satu sisi. Ada organsasi yang kurang diperhatikan. Meskipun saya mampu mengimbangi semuanya, saya rasa masih banyak pekerjaan saya yang terbagi kurang fokus kurang perhatian. Dan ini menjadi pelajaran sangat berharga bagi saya. Sebenarnya panjang sekali cerita bagaimana saya mampu bertahan di 4 organisasi tersebut. Tapi sepertinya saya ceritakan lain kali saja.


CALISMONG ( Baca, Tulis, Ngomong)

            2016 membuat saya banyak membaca buku, menulis dan berbicara sekarang. Alhamdulillah banyak ilmu tapi sungguh masih sangat kurang dan masih sangat jauh merasa bodoh. Banyak pertanyaan – pertanyaan muncul. Dari sejarah, agama, negara, politik, sosial, pendidikan dan mengenai hakekat jurusan saya sendiri. Apalagi tentang kehidupan. Sering membuat saya menyerah tapi juga membuat saya bangkit. Mungkin inilah masa muda. Masa mencari jati diri. Tapi di sisi lain, banyak anak muda yang sudah sukses. Tapi saya percaya jalan hidup orang berbeda – beda.


            Saya mulai menemukan beberapa dari diri saya, idealisme saya, ideologi saya. Saya mulai mempraktikan teori – teori sosiologi dan jalan hidup saya pada realita masyarakat sesungguhnya. Banyak sekali ujian dan tantangan, tentu. Tapi meskipun begitu calismong ini penting bagi saya dalam jalan yang saya anut sekarang. Membaca meskipun sulit mengerti, menulis meskipun sulit merangkai kata, berbicara meskipun kadang sungguh malu mengatakannya. Ini merupakan proses yang saya harus lalui dan kembangkan di 2017.


            Awalnya membuat putus asa memang, tapi perlahan hasil pun ada juga, mulai dari tulisan yang masuk media online. Lolos abstrak karya tulis ilmiah. Dan masih banyak lagi (haha pamer). Mulai percaya diri memberikan materi dan berbicara di depan umum. Dan banyak hal yang mungkin tidak terukur secara akademik tapi secara softskill banyak hal yang bisa di dapat.


KESIMPULAN (serius banget pakai kesimpulan)


            2016 menjadi tahun yang paling banyak mengembangkan potensi diri, terlebih mengembangkan altruisme diri. Meskipun bagi orang lain tidak terlalu penting dan mungkin tidak keren. Bagi saya perubahan saya yang sekarang ini sudah jauh luar biasa. Dan saya akan mengembangkan itu di tahun – tahun selajutnya. Di tahun 2017, saya akan lebih fokus ke akademik dan prestasi. Semoga tahun depan saya dapat menuliskan keberhasilan saya selama 2017.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About Me

Yoga Dewa

(Sociologist)

Focus on Community Development, Education, New Social Movement

Instagram: @Yogantarawa

Labels

  • CERPEN
  • MY ART
  • OPINI
  • Puisi
  • REKOMENDASI
  • TIPS AND TRICK

recent posts

Sponsor

Flag Counter

Blog Archive

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  October (1)
      • Buku Pertama (MENGENAL GERAKAN MENGAJAR)
  • ►  2020 (6)
    • ►  May (3)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (22)
    • ►  December (1)
    • ►  September (6)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  March (3)
    • ►  February (5)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (16)
    • ►  November (1)
    • ►  October (4)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  May (5)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2016 (27)
    • ►  August (1)
    • ►  July (3)
    • ►  June (9)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (3)
    • ►  January (5)
  • ►  2015 (8)
    • ►  December (7)
    • ►  October (1)
  • ►  2014 (11)
    • ►  August (2)
    • ►  July (4)
    • ►  June (5)

Created with by BeautyTemplates| Distributed By Gooyaabi Templates