Anteposterior

(n) Tempat Dimana Dapat Berbagi Pikiran Dan Perasaan


Teknologi sepertinya telah membantu banyak sekali hal bagi manusia, terutama dalam mendapatkan Ilmu. Jika dulu manusia harus bersusah payah untuk mendapatkan ilmu, seperti misalnya harus berguru bertahun-tahun ke orang atau harus membeli atau meminjam banyak buku unuk mencari sesuatu atau belajar sesuatu dan masih banyak lagi.

Sekarang atau Jaman Now, manusia tidak perlu berusah payah untuk mendapatkan ilmu. Banyak sekali cara atau teknologi yang dapat membantu manusia untuk mendapatkan ilmu secara cepat dan independen (Baca: Otodidak). Banyak sekali aplikasi atau website atau platform yang mempermudah manusia dalam mendapatkan ilmu. Jika kalian masih merasa susah untuk belajar atau masih merasa kesulitan berarti anda manusia Jaman Old hehe bercanda.

Saya akan memberikan beberapa rekomendasi tempat dimana anda dapat belajar atau mendapatkan Ilmu dengan cara cepat dan mudah. Tentu saja tempat yang saya maksud tidak lah jauh atau susah ditempuh. Hanya butuh internet, karena semua tempatnya ada di Dunia Maya.

1. Google

Yup, posisi pertama adalah Google. Google selalu menjadi pilihan pertama banyak orang ketika mereka tidak tau sesuatu misalnya arti, makna, cara, arah jalan dan lain-lain. Google juga sangat mudah diakses dan semua orang dapat berbagi atau mencari segala macam ilmu, wawasan, pengetahuan, pengalaman dari Google. Banyak fitur dari google yang mempermudah anda misalnya mencari tau arah jalan melalui Google Map, menyimpan file dan berbagi lewat Google Drive, mencari tau pendapat orang lewat Google Form dan lain-lain. Kalian bisa juga mencari tau manfaat yag lebih dari google di Google sendiri atau bahkan mencari kegunaan dari PlatForm yang saya coba jelaskan.





2. Youtube
Bagi saya membaca atau belajar bukan hanya dari Buku, tapi juga dari banyak hal misalnya menonton Video. Video bagi saya mempermudah untuk berimajinasi dan mampu mempermudah saya untuk mengerti sesuatu lewat Visual atau gambar yang ditampilkan. Platform yang menjadi rujukan pertama bagi banyak orang adalah Youtube. Youtube banyak sekali memiliki video. Bagi saya Youtube seperti Search Engine dalam bentuk Video. Banyak sekali Video yang edukatif atau bermanfaat dalam mencari Ilmu misalnya tentang agama, cara menggunakan sesuatu, review buku, film, music dll, pembelajaran dari segala tingkatan dan banyak sekali jenis dan macam, Pokoknya banyak.

3. Cousera
Cousera merupakan platform yang membuat kita bisa belajar di Universitas terkenal di Dunia secara online. Materi banyak disampaikan dengan video yang mempermudah kita untuk mengerti dan tidak harus pergi ke universitas tersebut untuk belajar. Untuk mendapatkan sertifikat jika sudah belajar memang harus bayar. Tapi jika tidak, anda masih bisa belajar dengan gratis kok. Jadi jangan sia-siakan kesempatannya ya. Sangat rekom buat yang ingin ke kuliah di luar negeri, mungkin bisa mencoba suasanya dulu di Cousera.

4. Duolingo
Duolingo merupakan platform dimana kalian bisa belajar banyak bahasa secara cepat dan mudah. Buat kalian yang masih awal dalam belajar bahasa-bahasa asing, anda bisa belajar disini. Metode belajarnya sangat mudah dan membuat anda akan belajar dengan cepat.

5. Media Online

Selain membaca buku anda bisa memanfaatkan waktu luang kalian untuk mendapatkan informasi ter-update atau opini seseorang atau masyarakat mengenai banyak hal anda bisa membacanya dengan cepat melalui media online. Banyak sekali media online sekarang ini misalnya, kompas.com, detik.com, Jakartapost dan lain-lain. Atau bagi kalian yang ingin tau opini-opini yang kritis anda bsa membuka mojok.co, geotimes, Indo Progres, Qureta dan masih banyak lagi.

6. Dan Masih Banyak Lagi
Dan masih banyak lagi platform yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu. Anda bisa mencarinya sendiri jika mau atau bantu komentar platform apa yang banyak membantu kalian.


Dengan semakin banyaknya informasi-informasi yang tidak benar atau biasanya disebut Hoax,kita perlu ekstra hati-hati dalam menyimpulkan kebenaran informasi. Perlu adanya filterisasi, comparing, katagorisasi dan lain-lain. Perlu pikiran dan hati yang jernih dan bijak untuk mencari kebenaran di jaman ini. Namun tidak perlu takut, Perkembangan teknologi sebaiknya dimanfaatkan dengan baik, jangan sampai kita justru menjadi negatif karena teknologi. Semoga bisa menjadi manfaat bagi banyak orang. Aamiin. 


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


“Dunia ini sudah tidak adil maka biasakanlah” – Patrick Star

            Kalimat yang menarik dan sangat dalam, yang diucapkan oleh tokoh yang di cap “bodoh” dalam film kartun sponsbob. Ya, itulah kalimat yang menghibur saya dan mungkin juga banyak orang yang merasa selalu hidup dalam ketidakadilan.

            Secara filosofis memang, sesungguhnya semuanya sudah memiliki takarannya masing-masing. Semua wajib disyukuri, karena Tuhan maha adil. Namun jkata ketidakadilan yang saya gunakan dalam tulisan ini merupakan upaya kritis dalam menjelaskan bagaimana system pendidikan Indonesia saat ini yang masih belum terselesaikan masalahnya. Tentu di akhir, saya akan coba berikan langkah solutif terkait permasalahan yang saya bahas kali ini.

            Sistem Ujian, ya setiap murid yang pintar di Indonesia selalu merasa pernah memberikan contekan pada teman yang ternyata nilainya lebih bagus daripada yang memberi contekan. Atau banyak yang belajar sungguh-sungguh tapi ada temannya yang santai-santai tinggal mencontek. Lemahnya sistem pengawasan yang ada membuat murid semakin mudah melakukan contek-mencotek. Bahkan, untuk ujian akhir pun dulu murid bahkan sampai mempersiapkan matang-matang untuk melakukan contekan waktu ujian. Ngeri nggk nih, secara nilai dan norma udah melanggar tapi semua merasa itu wajar dan akhirnya dibiarkan.

            Sistem Absen, mungkin kebobrokan sistem absen ini lebih banyak dirasakan di sistem absen perkuliahan dibandingkan sekolah. Sistem absen di sekolah mungkin banyak yang sudah menggunakan finger print. Dalam absensi mahasiswa, dengan sangat mudah absen bisa dicurangi. Banyak mahasiswa yang bahkan tidak pernah masuk perkuliahan dan titip absen temannya. Dan parahnya mereka mendapatkan nilai yang sama. Yah mungkin mahasisawa sudah benar-benar dilepas karena sebenarnya curang atau tidak itu pilihan hidup mereka. Tapi ayolah, lembaga pendidikan bukannya mendidik? Jika saat mahasiswa saja sudah menipu banyak orang, bagaimana saat menjadi bupati, walikota, gubernur, pns, presiden dll. Saya kira sistem absen perlu dibenahi.

            Sistem Kelulusan, ya kita tau bagaiamana pemerintah menstandartkan kelulusan untuk seluruh sekolah yang ada di Indonesia meskipun berbeda fasilitas dan tenaga guru yang ada. Ini memang sepertinya pemerintah sudah mulai memperbaiki dengan memberikan perbedaan standart di setiap daerah dan semakin menggali potensi siswa dengan menggunakan ujian esai. Namun, untuk beberapa kelulusan di setiap sekolah kadang terlalu memaksa, masih banyak nilai yang dikatrol, banyak yang terpaksa dinaikan dan akhirnya murid kelabakan setelah lulus.

            Saya jadi ingat, saya pernah mendengar cerita seorang guru yang bertanya pada orang tua tentang anaknya yang belum bisa membaca apakah harus dinaikkan atau enggak. Dan sang orang tua mengatakan tidak usah dinaikan pak, biar tidak lulus dulu dan bisa baca dulu. Biar nanti tidak kesusahan di kelas berikutnya. Sebuah keputusan yang sangat bijak menruut saya dan ini juga harusnya menjadi contoh atau panutan dalm dunia pendidikan agar tidak “memaksa” siswa untuk naik.
          
            Sistem pemberian Nilai, saya sering merasa ketidakadilan nilai pada saat perkuliahan. Dengan jumlah mahasiswa yang segitu banyak, Dosen kesulitan memberikan nilai yang mendekati akurat pada kemampuan mahasiswa yang sebenarnya. Jadi saya kira ini juga perlu dibenahi karena banyak mahasiswa dirugikan. Memang nilai bukanlah yang utama, tapi saya kira juga penting sebagai ukuran kemampuan yang meskipun juga tidak akan secara tepat mengukur tapi setidaknya mendekati bukan jauh.

            Kita semua sudah semakin kehilangan hakikat pendidikan, kita sudah seperti robot yang dicetak untuk menjadi buruh-buruh kapitalis. Pendidikan dijadikan sebagai industri memeras pendidik dan yang terdidik. Saya kira banyak sekali yang perlu dibenahi dari ketidakadilan sistem yang ada. Misalnya saja untuk sistem ujian sebenarnya sepele, banyak pengawas yang tidak serius dalam menjaga ujian. Sistem absen yang perlu diperbarui dengan kecangihan teknologi dan habituasi tentang nilai dan moral saya kira perlu untuk meningkatkan integritas. Sistem pemberian nilai yang adil dengan jumlah peserta didik yang tidak banyak sehingga pengajar intens dengan peserta didik. Saya kira banyak sekali solusi yang bisa dikembangkan karena banyak sekali cara, kita yang yang tidak mau berusaha membongkar kebiasaan buruk dan menindak lanjuti kecurangan atau ketidakadilan itu. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Tulisan ini teri-lhami dari salah satu pernyataan dosen saya dalam mata kuliah sosiologi pembangunan. Beliau dalam penjelasannya menyinggung mengenai demokrasi dan pembangunan sebagai agama baru masyarakat sekarang. Meskipun beliau tidak membahas secara keseluruhan, namun saya tertarik untuk mengembangkan pernyataan tersebut. Hal ini dilandasi karena banyaknya keyakinan masyarakat mengenai betapa sempurnanya demokrasi dan pembangunan. Sebenarnya saya bukanlah ahli dalam pembahasan demokrasi dan pembangunan, namun semoga tulisan saya bisa menjadi bahan renungan ataupun kajian sebagai bentuk kritis terhadap fenomena yang ada sekarang. dan sesungguhnya tulisan ini tidak ada kaitannya dengan religiusitas ataupun hal yang sakral atau suci.

Definisi agama yang akan akan saya bahas disini bukanlah agama yang benar-benar agama seperti yang ada (Islam, Kristen, Budha, Hindu, dll.). Namun definisi agama yang akan saya bahas adalah secara sosiologis berarti keyakinan yang dimiliki masyarakat terhadap sesuatu yang sangat atau lebih kuat. Saya merasa melalui pendapat masyarakat di media, ruang publik ataupun ruang-ruang diskusi akademis, banyak masyarakat yang selalu mengagung-agungkan demokrasi sebagai bentuk pemerintahan yang ideal dan pembangunan sebagai cara dalam peningkatan kesejahteraan dalam negara. Sebenarnya “agama baru” yang muncul dalam masyarakat modern menurut saya cukup banyak seperti kapitalisme, uang, sukses dan masih banyak lagi, cakupannya sangat luas jika mau berimajinasi.

Pertama, mari kita bahas terlebih dahulu bagaimana demokrasi menjadi “agama baru” masyarakat terutama masyarakat modern. Demokrasi sendiri lahir atas dasar protes terhadap bentuk pemerintahan yang otoriter. Bentuk-bentuk pemerintahan yang sangat monarki atau yang sifatnya otoriter telah membuat banyak atau luasnya kekuasaan yang ada di tangan raja atau penguasa. Sehingga penguasa dapat sewenang-wenang dalam persoalan kenegaraan atau kerajaan.  Sehingga hal ini menimbulkan protes terhadap bentuk-bentuk pemerintahan yang dijalankan oleh satu orang seperti monarki ataupun oligarki (sekelompok kecil elit).

Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang semua warna negara atau rakyat memiliki hak yang sama dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah pikiran mereka. Definisi mengenai demokrasi mungkin yang lebih dikenal adalah pendapat Abraham Lincoln yakni pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dari definisi tersebut berarti rakyat lah yang berkuasa dalam suatu pemerintahan. Pada masa Yunani sistem ini dinilai baik karena mampu membawa keadilan bagi rakyat. Namun banyak juga yang mengkritik mengenai demokrasi ini yakni rakyat tidak boleh berkuasa. Karena di dalam masyarakat tercampur semua jenis individu. Ketika banyak individu yang “bodoh” dalam masyarakat misalnya, hal ini akan membawa masyarakat tersebut dalam bencana atau kekacauan.

Demokrasi “jaman now” sangatlah berbeda dengan demokrasi zaman Yunani tentunya. Kritik terhadap demokrasi saya rasa sudah mampu ditanggulangi zaman modern ini. Demokrasi sekarang ini menempatkan wakil atau perwakilan rakyat yang kompeten dalam pengambilan keputusan. Maka dari itu misal di Indonesia ada yang namanya lembaga yudikatif, legislatif dan eksekutif dalam tatanan pemerintahan. Sistem demokrasi pancasila ini juga diyakini telah sempurna dibandingkan demokrasi terpimpin ataupun parlementer seperti yang sudah. Meskipun banyak kritik yang mengatakan bahwa demokrasi di Indonesia belum sempurna. Banyak juga yang punya keyakinan demokrasi pancsila melahirkan sebuah bentuk pemerintahan yang ideal sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia.

Demokrasi memang pada dasarnya di setiap negara berbeda, hal ini dikarenakan kultur budaya di setiap masyarakat juga berbeda. Sehingga demokrasi pun telah dimodifikasi sedemikian rupa agar mampu berjalan dengan baik sesuai dengan kultur masyarakatnya. Kemudian demokrasi juga dinilai sebagai sistem yang paling adil bagi masyarakat. Menurut data yang diambil oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjunkan bahwa 70% masyarakat menilai demokrasi adalah sistem terbaik untuk Indonesia.  Dan menurut data dari Max Roser dalam website www.ourworldindata.com menunjukan setelah tahun 1945 angka demokrasi di seluruh dunia menjadi naik. Secara dramatis juga naik pada tahun 1989 setelah pecahnya Uni Soviet. Kemudian berkembang dan stabil setelah tahun 2010
Keyakinan terhadap demokrasi juga membuat sistem yang berbeda pandangan maka akan dianggap sebagai hal yang lemah atau mungkin cacat. Dilihat dari beberapa pendapat mengenai ideologi lain terkait bentuk pemerintahan, penguasa dalam tatanan demokrasi yang katanya demokratis cenderung menutup diri. Padahal demokratis sendiri berarti bebas berpendapat dan masyarakat berhak untuk memiliki ide dan berpendapat. Saya kira masyarakat terlalu berkeyaninan dan lupa bahwa sesuatu pasti ada kelemahannya. Dan saya kira sistem demokrasi juga perlu kita kritisi dan kaji bersama, sehingga ada perbaikan kedepan yang lebih baik.
Kemudian yang kedua mengenai pembangunan yang juga masih ada hubungannya dengan demokrasi yakni (yang katanya) “untuk rakyat”. Pembangunan selalu saja di agung-agungkan masyarakat terutama pemerintah pada zaman orde baru. Banyak sekali konsep yang muncul mengenai pembangunan seperti politik sebagai pembangunan, ekonomi sebagai pembangunan, moral sebagai pembanguna kemudian pembangunan nasional dan lain-lain. Kemudiaan pembangunan  terus dipakai bahkan dalam konteks pemilihan pemimpin sebagai harapan-harapan yang menjanjikan.
Pembangunan sendiri seperti yang selalu saya bahas terdapat diskursus mengenai pembangunan itu sendiri. Konsep pembangunan sendiri sebenarnya untuk siapa, apa dan bagaimana. Pembangunan secara kritis apakah benar untuk rakyat atau keadilan sosial, atau hanya untuk pemilik modal atau secara singkat hanya untuk melanggengkan kapitalisme dan memperkuatnya. Aneh memang, jika kapitalisme yang secara logis dikatakan marx nantinya akan tumbang. Nyatanya, sampai sekarang masih kuat dan merasuk dalam seluruh ruang-ruang kemasyarakatan. Bahkan seperti “agama baru” yang mungkin banyak orang melarang namun nyatanya kita sama merasakan kanyamanan.
Konsep pembangunan memang sangatlah luas, tergantung konteksnya. Akan sangat panjang jika saya harus menjelaskan. Namun yang saa ingin okus perhatikan adalah bagaimana keyakinan masyarakat mengenai pembangunan adalah sebagai sebuah hal yang selalu baik. Sulit bagi logika kita untuk kritis terkait pembangunan itu sendiri. Coba bayangkan, siapa yang tidak tertarik ketika rumahnya dibangun?. Pasti tertarik, dan orang pasti tidak kritis mengapa ia dibangunkan rumah, untuk apa, dan apa untungnya bagi yang membangunkan. Keyakinan mengenai pembangunan ini semakin menjadi-jadi ketika masyarakat lupa untuk kritis, lupa bahwa sesuatu selalu ada kelemahan.
Kesimpulan dari yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini adalah bahwa tidak ada yang sempurna. Semua memiliki kelemahan, tidak ada kekuatan atau sesuatu yang benar-benar kuat. Semua punya hal yang perlu dikritisi dan kemudian di perbaiki bersama. Semoga penjelasan saya cukup logis dan akademis meskipun sangat singkat dan ringkas. Dan semoga membuka pikiran kalian semua terhadap apa yang sedang terjadi di dalam zaman modern atau post modern ini.  




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Pernah tidak anda menyadari jika selama ini dalam percakapan (terutama orang baru) saya selalu mendominasi percakapan? Atau mungkin bahasanya kepo?
Saya bertanya terlalu dalam mungkin?
Atau bertanya hal-hal yang sebenarnya jarang ditanyakan?
Yup, saya sebenarnya sedang melakukan eksperimen sosial mengenai bagaimana interaksi seseorang dalam percakapan. Objek penelitiannya bisa cewek atau cowok, berumur diatas atau dibawah saya, mulai dari yang pendiem sampai yang banyak tingkah. Percakapan kebanyakan dilakukan ofline atau langsung, beberapa online.

Alasan
Pertama, berawal dari teori interaksionalisme simbolik yang menjelaskan bagaimana sebenarnya di setiap interaksi kita terdapat “simbol-simbol”. saya berupaya memecahkan kode-kode atau simbol-simbol tersebut guna sebagai ilmu kita bersama dalam berinteraksi. Biar peka katanya. Kedua, teori dramaturgi yang menjelaskan bagaimana sebenarnya seorang individu ketika berinteraksi cenderung melakukan permainan peran seperti berdrama di panggung. Pasti pernah kita merasakan ada orang yang didepan manis ternyata dibelakangnya busuk. Atau sebaliknya. Kita tidak pernah tau hati seseorang karena semua orang berupaya memainkan peran dan memiliki citra sebagai pakaian atraksi mereka. Maka dari itu saya berupaya membongkar itu.

Ketiga, pertemuan kita kepada seseorang dapat menjadi pembelajaran yang bisa kita petik untuk kehidupan kita. pelajaran tersebut mungkin tidak dapat kita dapatkan dalam kehidupan saya atau belum kita dapatkan. Sehingga pelajaran tersebut akan sangat bagi kita melangkah kedepan. Dan saya harap point-point hasil yang sudah saya petik dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua.

Hasil: Topik Pembicaraan
Ketika saya melakukan pembicaraan, saya berupaya memancing dengan topik-topik dalam tataran dangkal, sedang, dalam. saya tidak dapat membuat rincihan di setiap varian topik yang saya coba golongkan. Karena setiap orang berbeda. orang yang pendiam cenderung sulit untuk diajak ke pembicaraan yang sifatnya dalam. konsep dalam yang saya maksud adalah mereka dapat bercerita begitu banya, natural dan menceritakan isi hati atau pemikiran mereka yang jarang diketahui orang atau di share. Berbeda halnya dengan orang terbuka yang dalam tataran pendiem itu sudah cukup dalam, bahkan mungkin bagi orang yang terbuka itu masih pertanyaan dangkal. Artinya bahwa tingkat kedalam suatu percakapan setiap orang berbeda.

Kemudian topik-topik pembicaraan yang menarik selalu berkaitan dengan jodoh (untuk individu yang belum menikah). Mereka selalu tertawa atau tersenyum dahulu sebelum dibahas. Topik ini juga bisa menjadi topik yang cukup dalam bisa digali baik untuk yang sudah kenal lama atau baru kenal. Pembicaraan tentang jodoh atau pacar atau gebetan selalu menjadi yang menarik.

Topik mengenai cita-cita selalu menajdi topik yang tidak menarik karena kebanyakan orang terutama semakin dewasa, mereka justru bingung dengan cita-cita. Konsep mengenai cita-cita sepertinya sudah berubah pada konsep impian atau keinginan. Saya selalu tertarik dengan orang-orang yang bercerita soal cita-cita atau bolehlah keinginan atau mimpi. Terkadang mereka sangat mendominasi dalam percakapan. Saya sempat mengambil kesimpulan atau mungkin judge (meskipun dalam sosiologi sebenarnya tidak boleh)kepada setiap orang yang mengetahui cita-cita atau passion adalah orang-orang yang idealis, kadang perfectionist, berani, berkarakter, tegas. Dan yang masih bingung terkadang sangat realistis atau pragmatis, pemikir, kurang percaya diri. Kurang lebih seperti itu, mskipun sebenarnya bukan ranahnya sosiologi tapi saya sedikit bisa mengetahui kepribadian seseorang ,melalui cita-cita. Atau mungkin bisa juga diketahui kondisi sosial individu tersebut, seperti orang yang punya cita-cita mungkin dalam dalam kondisi sosial yang memiliki orientasi masa depan yang tinggi, pendidikan yang tinggi, intensitas mobilitas vertikal yang cukup tinggi. Tapi saya rasa itu belum tentu juga. Sepertinya pola ini seperti teori bunuh diri Emile Dhurkheim. Maksud saya terkait konsep integrasi dan regulasi dalam masyarakat.

Topik-topik sentimen (emosional) adalah topik yang sebenarnya bisa bertahan lama. Maksud saya topik semacam itu akan membekas dan menjadi hal yang menandai percakapan anda dengan individu A, atau B, atau C. Percakapan tentang keluarga, pengalaman kesedihan dan lain-lain merupakan percakapan yang sebenarnya cukup dalam dan mampu menguras perasaan dan kemudian mengena di setiap percakapan.

Topik-topik berat seperti politik, ekonomi, hukum, HAM merupakan topik-topik yang dihindari oleh sebagian orang, karena akan terkesan sangat serius dan membosankan. Namun, jika orang tersebut memang mempunyai kapasitas untuk membicarakan hal tersebut makan akan sangat menarik dalam percakapan.

Seperti itulah kira-kira kesimpulan yang saya dapatkan dari eksperimen sosial saya dalam tema topik pembicaraan. Nanti saya akan tulis mengenai pembatasan jarak komunikasi dalam percakapan.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Doa Bulan Juni




Aku harap kamu begitu mencintai laut sampai kamu tenggelam di dalamnya,
atau,
begitu mencintai pisau, sampai kamu terluka karenanya.
Sayang nurani ku tak pernah mengharap itu.
Meski kita tau perlakuanmu demikian!!
.
.
Semoga bahagia.

-Oktavimega Yoga Guntaradewa-


Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Gambar diambil dari google
Sepertinya dia terlalu sibuk duduk dan menatap kursi kosong di depan
Dia lupa berada di sebelah jendela
Meskipun begitu, terlalu cepat, dia tak bisa menikmati
Harusnya dia turun dan berjalan
Sembari mengamati, atau mengikuti

Apa dia merugi?
Bukankah setiap orang punya jalan masing-masing?
Bukankah setiap orang punya tiketnya masing-masing?

Dia sepertinya iri, pada orang yang berani turun bukan dijalannya
Tapi mungkin tidak
Orang yang menikmati jalannya lebih mendamaikan
Namun orang yang gelisah pada perjalannya adalah yang lebih kasihan

Selama perjalanan dia mempelajari banyak
Meskipun dia lambat, dia benar belajar

Investor mungkin bilang dia tak berpotensi
Kebanyakan orang mencaci
Perusahaan yang mau menerimanya mungkin ragu
Tapi dia memberi garansi kepada mereka tak kan rugi


Ketika dia sudah pada tujuannya, sejarah yang akan mengatakan pada mereka.


09-10-2017
-Yogantarawa-
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Nasionalisme Dan Religiusitas
Indonesia merupakan salah satu negara yang beruntung memiliki banyak sekali keberagaman. Keragaman dan kemajemukan suku, budaya, etnik dan perbedaan yang lainya yang terdapat di Indonesia merupakan sesuatu yang sulit ditemukan di kawasan dunia lain. Dari barat ke timur bangsa ini memiliki lebih dari 17.508 yang tersebar dan membentang sepanjang 5000 km dengan bahasa, suku, agama, tradisi kepercayaan , budaya, adat istiadat, tingkat ekonomi, dan tatanan sosial yang berbeda-beda (Jakarta, Madia : 2001).
Jika negara lain memiliki banyak masalah mengenai perbedaan, Indonesia justru mampu bersatu dan merdeka dari keberagamaan itu. Hal itu menjadi pengalaman bangsa Indonesia sejak awal. Setelah melepaskan dari kolonialisme Belanda dan Jepang, tidak mudah bagi Indonesia untuk merumuskan norma dasar hidup berbangsanya. Tantangan internal terbesar Indonesia sejak awal adalah masalah pluralitas. Prof. John A. Titaley mengatakan bahwa pluralitas masyarakat Indonesia merupakan suatu tantangan (walau sekaligus peluang) yang jarang sekali terjadi dalam sejarah umat manusia, terutama dari segi keagamaan[1].
Senada dengan Titaley, Prof. Franz Magnis Suseno mengajukan pertanyaan retorik demikian: adakah bangsa lain dengan struktur geografis, budaya, dan keagamaan yang sekompleks kita di Indonesia?[2]. Kompleksitas kemajemukan yang diungkapkan keduanya bukan ilusi. Indonesia merupakan pusat persemaian dan penyerbukan silang budaya, yang mengembangkan berbagai corak kebudayaan yang lebih banyak dibandingkan dengan kawasan Asia mana pun[3]. Inilah yang membuat Indonesia sejak awal menghadapi tantangan yang khas dalam rangka menjadi sebuah negara hukum modern.
Persatuan dari perbedaan yang ada di Indonesia akhirnya menciptakan nasionalisme yang terus membara pada saat perjuangan kemerdekaan. Nasionalisme menjadi semangat bangsa untuk bersatu memperjuangkan kemerdekaan. Semangat nasionalisme menjadi penting sebagai ideologi,  karena nasionalisme dapat memainkan tiga fungsi, yaitu mengikat semua kelas, menyatukan mentalitas mereka, dan membangun atau memperkokoh pengaruh terhadap kebijakan yang ada di dalam kursi utama ideologi nasional[4].
            Pembentukan Pancasila merupakan hasil dari semangat nasionalisme bangsa Indonesia. Perbedaan mengenai agama bukanlah penghalang bagi bangsa untuk melakukan diskusi terbuka, berdebat, tetapi saling mendengar dan masing masing pihak bersedia mentransformasi dan memperluas pandangan keagamaannya. Ini merupakan sikap nasionalisme yang dibalut dengan religiusitas yang tinggi mengenai toleransi beragama.

Penetapan sila pertama dalam Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa” merupakan peristiwa yang bersejarah dan merupakan dasar bagi bangsa Indonesia dalam berbangsa. Hasil dari Undang-Undang Dasar 1945 ayat 29 mengenai jaminan negara terhadap semua agama juga meruapakan sejarah penting yang harus dibuat pelajaran. Keduanya bukan sekedar kompromi politik, melainkan sesuatu yang lahir dari deliberasi (diskursus) rasional para pemeluk agama-agama yang ada di nusantara untuk beragama secara khas Indonesia.

Sukarno pernah mengatakan bahwa perlawanan bangsa Indonesia akan semakin berat karena harus melawan bangsanya sendiri. Masalahnya sekarang ini, konflik horizontal mengenai perbedaan agama sering sekali terjadi seperti Ambon, Papua, dan Maluku, Poso, Sumatra Utara atau dewasa ini konflik soal Ahok. Konflik keagamaan menjadi sangat berbahaya karena konflik agama selalu ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan ekonomi ataupun politik. Hal demikian juga akan menciptakan disintegrasi yang akhirnya menciptakan perpecahan atau lebih ekstrim bubarnya negara. Masalah demikian menjadi masalah sekaligus tantangan yang serius bagi bangsa Indonesia untuk mampu belajar dari masa lalu dan menyelesaikan permasalahan mengenai konflik keagamaan.

Solusi Toleransi Umat Beragama
Toleransi secara arti adalah suatu perilaku atau sikap manusia yang tidak menyimpang dari aturan, dimana seseorang menghormati atau menghargai setiap tindakan yang dilakukan orang lain. Keberagaman agama yang ada di Indonesia sudah sejak dulu membuat bangsa Indonesia menjadi toleran yang paling tinggi. Namun kini yang dihadapi adalah konflik horizontal berkepanjangan yang sangat merusak dan mengancam kesatuan negara.
Konflik horizontal mengenai agama di Indonesia persoalannya sangat kompleks. Sekarang ini persoalannya bukan hanya seperti apa yang terjadi di Poso atau Maluku tapi sudah menjalar ke masyarakat digital. Konflik mengenai Ahok sangatlah membuat prihatin, karena konflik yang terjadi begitu keras di sosial media atau di dunia maya. Sebenarnya persoalan mengenai konflik agama bukan murni persoalan agama. Tapi ada oknum-oknum yang sengaja menunggani unsur-unsur SARA untuk membuat masyarakat saling berkonflik. Dan sayangnya, masyarakat Indonesia mudah sekali tersulut api jika persoalannya tentang agama. Agama di Indonesia menjadi dasar yang kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Solusi yang dapat ditawarkan adalah membangun semangat nasionalisme dengan asas religiusitas melalui pendidikan atau sosialisasi primer ataupun sekunder. Seperti yang sudah dijelaskan, bangsa Indonesia dulu pernah berjaya dan bersatu karena semangat nasionalisme dan religiusitas. Perubahan memang terjadi, tapi sejarah Indonesia perlu dipelajari untuk masa depan Indonesia.
Konsep nasionalisme yang berasas religiusitas pernah diimplementasikan oleh guru bangsa Indonesia H.O.S. Cokroaminoto. Beliau mengatakan pertama, pendidikan harus berdasarkan pada sumber Islam yakni al-Qur‟an dan al-Hadits. kedua, tujuan pendidikan kebangsaan yang ingin dicapai menurut H.O.S. Cokroaminoto adalah untuk menjadikan anak didik sebagai seorang muslim yang sejati dan sekaligus menjadi seorang nasionalis yang berjiwa besar penuh kepercayaan kepada diri sendiri. ketiga, prinsip pendidikan kebangsaan yang dikehendaki oleh H.O.S. Cokroaminoto adalah cinta tanah air yaitu sekuat tenaga mengadakan pendidikan untuk menanamkan perasaan kebangsaan; memiliki keberanian yaitu selalu menanamkan rasa keberanian terutama jihad (bekerja keras mempropagandakan dan melindungi Islam) karena hal itu termasuk bagian dari iman; dan menanamkan sifat kemandirian, maksudnya setiap orang harus berusaha dengan sungguh-sungguh dan pantang memakan hasil pekerjaan orang lain dan mampu mandiri tidak menggantungkan kepada orang lain (Cokroaminoto, 1955: 48).
Inti dari konsep dan praktik yang dilakukan oleh H.O.S. Cokroaminoto sebenarnya adalah Religiusitas agama membawa kepada spiritualitas rohani yang menentukan emosi atau pengelolahan hati manusia dalam bertindak. Religiusitas menciptakan semangat nasionalisme dan persatuan bagi bangsa.
Selanjutnya, setelah pendidikan atau sosialisasi sudah dilakukan maka dialog atau komunikasi keagamaan perlu dilakukan untuk dapat melakukan silahturahmi dan diskusi mengenai SARA yang bersifat konstruktif dan positif. Konsep dialog agama adalah pemikiran dasar yang digunakan sebagai pedoman dalam bermusyawarah oleh umat manusia untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan sehari-hari, baik secara personal maupun komunal, secara spontanitas ataupun terprogram yang ada dalam internal maupun eksternal agama. Lebih luas lagi mencakup permasalahan seluruh agama yang bertujuan untuk menciptakan kerukunan serta menyatukan umat manusia dalam wadah agama yang berbeda. Serta tidak memaksakan kehendak agama yang satu kepada agama yang lainnya.
Muhammad Ali menjelaskan beberapa sikap yang perlu dipegang dalam suatu dialog kitab suci sebagi berikut pertama adalah sikap mengakui perbedaan pemahaman terhadap kitab suci orang lain. Kedua yaitu menghargai perbedaan pemahaman terhadap kitab suci dalam agama tertentu. Ketiga yaitu jangan berdebad usir. Dialog dan diskusi harus dilakukan dengan cara yang paling baik dan paling tepat. Tidak ada penghujatan, pengkafiran, pelabelan setan, terhadap intra dialog dan teological judgment lain yang tidak berdasarkan ilmu pengetahuan[5].
Pelaksanaan dialog antar agama ada tujuan yang ingin dicapai, minimal ada dua hal penting yang didapatkan dari dialog. Pertama, terkikisnya kesalah pahaman yang bersumber dari adanya perbedaan bahasa dari masing-masing agama. kedua, dialog dimaksudkan guna mencari respon yang sama terhadap semua tantangan yang dihadapi oleh agama[6].
Teori dan praktik harus seimbang sebagai solusi. Konsep nasionalisme dan religiusitas dalam pendidikan atau sosialisasi yang dilakukan menjadi dasar nilai dan norma bangsa Indonesia. Tindakan yang dilakukan haruslah mencerminkan sikap toleransi umat beragama. Praktik dialog harus dilakukan sebagai sarana interaksi.  Keberagaman agama yang ada di Indonesia haruslah menjadi berkah bukan menjadi bencana.





[1]. John A. Titaley, Religiositas di Alinea Tiga: Pluralisme, Nasionalisme dan Transformasi Agama-Agama, (Salatiga: Satya Wacana University Press, 2013), 43
[2] . Franz Magnis-Suseno, Berebut Jiwa Bangsa: Dialog, Perdamaian, dan Persaudaraan, (Jakarta: Kompas, 2007), 229
[3]. Oppenheimer dalam kutipan Yudi Latif, Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, (Jakarta: Gramedia, 2011), 3
[4] R. Karim, Nasionalisme Arti dan sejarahnya, Analisis CSIS, Tahun XXV Tahun 2, 1996, h. 95-108.
[5] Muhammad Ali, Teologi Pluralis Multikultural: Menghargai Kemajemukan, Menjalin Kebersamaan, (Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2003), h. 186. 
[6] Ibid, h. 138-139.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About Me

Yoga Dewa

(Sociologist)

Focus on Community Development, Education, New Social Movement

Instagram: @Yogantarawa

Labels

  • CERPEN
  • MY ART
  • OPINI
  • Puisi
  • REKOMENDASI
  • TIPS AND TRICK

recent posts

Sponsor

Flag Counter

Blog Archive

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  October (1)
      • Buku Pertama (MENGENAL GERAKAN MENGAJAR)
  • ►  2020 (6)
    • ►  May (3)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2019 (22)
    • ►  December (1)
    • ►  September (6)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  March (3)
    • ►  February (5)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (4)
    • ►  December (1)
    • ►  February (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2017 (16)
    • ►  November (1)
    • ►  October (4)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  May (5)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2016 (27)
    • ►  August (1)
    • ►  July (3)
    • ►  June (9)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (3)
    • ►  January (5)
  • ►  2015 (8)
    • ►  December (7)
    • ►  October (1)
  • ►  2014 (11)
    • ►  August (2)
    • ►  July (4)
    • ►  June (5)

Created with by BeautyTemplates| Distributed By Gooyaabi Templates